Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Soal Isu Reshuffle, PPP Singgung Parpol Berseberangan Mundur dari Kabinet

Isu reshuffle mencuat setelah Partai NasDem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres). PPP menilai reshuffle hak prerogatif Presiden.

"Ya itu hak prerogatif Presiden Jokowi ya soal reshuffle itu ya," kata Ketua DPP PPP Achmad Baidowi (Awiek) kepada wartawan, Kamis (13/10/2022).

Awiek lantas menyinggung partai politik yang tidak sejalan dengan pemerintah lalu mundur dari kabinet. Awiek menyebut hal itu pernah terjadi di periode lalu.

"Tetapi kalau memang. Begini, dulu ada parpol ketika tidak sejalan dengan pemerintahan dan memilih berseberangan maka parpol tersebut mundur dari kabinet, itu yang periode lalu, nggak tahu kalau sekarang," ucapnya.

Awiek lalu berbicara soal kondisi partai pendukung Jokowi setelah NasDem mendeklarasikan Anies capres. Menurutnya, hal itu blunder ditambah lagi ketika Elite NasDem Zulfan Lindan bilang Anies antitesis Jokowi.

"Iya bukan disudutin ya, tetapi NasDemnya sendiri yang blunder. Seperti ada elite NasDem bilang Anies itu antitesa Jokowi, itu kan membuat konfrontasi sendiri," ujarnya.

"Kalau soal capres-cawapres itu kan masih panjang, dan belum tentu juga, calon-calon Presiden itu bisa berangkat karena harus memenuhi tiket 20% kursi atau 25% suara. Namun pernyataan-pernyataan yang blunder itu membuat situasi memanas, khususnya hubungan PDI-P dengan NasDem, terkait dengan tesis antitesis, kepemimpinan antitesis itu lo," ucapnya.

Awiek menyebut tidak ada persoalan terkait hubungan antarpartai koalisi Jokowi saat ini. Menurutnya, justru hubungan NasDem dengan Jokowi yang akan terganggu.

"Ya kalau dengan PDIP kan nggak ada masalah, dalam konteks hubungan antarparpol, tetapi kalau hubungan dengan sesama koalisi tentu itu kan hubungannya NasDem dengan Jokowi, kan koalisinya di situ," ucapnya.

Awiek menyayangkan dengan kalimat Anies antitesis Jokowi itu. Menurutnya hal itu tidak etis diucapkan seorang pelaku politik.

"Ya kalau kita sih menyayangkan saja, kenapa sampai keluar di publik, bahasa, kalimat antitesa dari Jokowi, itu kan tidak etis sebenarnya. Kalau tesa antitesa kan gampang, kalau tesanya kenyang, antitesanya lapar, kan gitu. Karena apa, Pak Zulfan itu pelaku politik, kecuali yang ber-statement itu atau menganalisa itu pengamat," ujarnya. [detik.com]