Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Potret Mahasiswa Hari Ini, Idealis atau Pragmatis?


GHIRAHBELAJAR.COM, Oleh Muhammad Nur Al Fatih Ilham

Tugas mahasiswa adalah bagaimana dapat melakukan suatu perubahan dalam setiap permasalahan yang ada di sekelilingnya. Mulai dari permasalahan yang paling kecil hingga pada tahapan permasalahan yang paling fundamental dan substansial. Maka, saya kira, dari banyaknya problematik hari ini, baik yang sifatnya sosial maupun personal, keberadaan mahasiswa harus mampu menjadi bargaining power dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Dalam artian secara individual, masyarakat harus mampu menjalankan hidup secara mandiri, sebagai modal dasar agar kiranya mereka dapat bertahan hidup, di tengah realitas yang penuh problematik dan ambiguitas. Terlepas dari itu, keberadaan mahasiswa memiliki peranan sangat besar dalam menciptakan perubahan bagi masyarakat akar rumput atau menengah ke bawah. Hadirnya mahasiswa sebagai kaum terdidik dan insan cendekia menuntut mereka harus mampu berpikir kritis dan radikal. Atas dasar apa mereka melakukan perubahan, kemudian kepentingan seperti apa yang seharusnya diwujudkan.

Apakah hal itu hanya sampai pada tarap narasi tanpa aktualisasi atau hadirnya mahasiswa di masyarakat hanya sebagai pemanis untuk bagaimana mereka mendapatkan citra politik, yang dilakukan melalui kegiatan-kegiatan sosial. Melakukan demontsrasi dengan dalih terjadinya perubahan dalam suatu kebijakan.

Maka, terlepas dari itu, dengan makin berubahnya siklus kehidupan di tengah gempuran pos moderenisme. Hingga pada akhirnya berimplikasi pada aktivitas sosial ataupun personal. Maka, satu hal yang penulis kira ini dapat memperteguh untuk bagaimana mahasiswa dapat melakukan peranya secara baik dan ideal, di antaranya melakukan reorientasi gagasan.

Jika kita sering mendengar istilah bahwa mahasiswa merupakan agent of change, social control dan check and balance, atau mungkin istilah-istilah lain yang kiranya diberikan kepada mahasiswa dalam melakukan perannya. Baik di masyarakat maupun dalam hal kebangsaan. Maka, ketika semua itu bisa dijalankan secara serius dengan penuh kedewasaan dan kebijaksanaa dalam melakukan aksi gerakannya. Tentu, persoalan-persoalan yang terjadi hari ini sepatutnya dapat terselesaikan dengan baik.

Maka, dibutuhkan sebuah keseriusan dalam memandang apa yang menjadi esensi dan subtsansi dari gerakan yang dilakukan mahasiswa. Apakah sudah betul-betul ideal atau hanya formalitas dan kepentingan semata, yang itu hanya menguntungkan bagi segelintir orang. Atau, hanya ingin mendapatkan popularitas tanpa adanya gerakan yang esensial.

Hingga akhirnya menimbulkan efek domino, dengan makin lantangnya kita bersuara, dari aksi-aksi demonstrasi yang biasanya mahasiswa lakukan, makin tidak didengar pula. Dengan terjadinya fenomena tersebut, menjadikan posisi mahasiswa hari ini cenderung dipandang sebelah mata oleh pemangku kebijakan ataupun masyarakat, yang seolah tidak pernah memberikan efek perubahan.

Maka, menurut penulis, jika hal ini terus terjadi dan mengakat pada generasi selanjutnya, hadirnya mahasiswa hari ini seolah makin menjerumuskan pada paradoks. Untuk mengurai pembahasan di atas, dibutuhkan suatu daya analisis yang dilakukan secara mendalam untuk mengetahui sebetulnya apa yang dilakukan mahasiswa hari ini betul-betul memiliki idealitas gerakan, atau hanya sebatas kepentingan sesaat yang sifatnya pragmatis atau mungkin oportunis?

Ini menjadi suatu bahasan yang harus dipikirkan secara jernih oleh kita semua, mengingat mahasiswa dikenal sebagai oposisi abadi dan memiliki idealisme yang sangat tinggi. Tentu dari apa yang dilakukannya pun harus sesuai dengan asas-asas yang fungsional dan substansial.

Mengurai Idealisme dan Pragmatisme


Secara sederhana, idealisme merupakan paham yang menginginkan/mencita-citakan suatu kebenaran universal dan memiliki sifat yang tidak berubah. Artinya, segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh tiap manusia memiliki dasar kebermanfaatan yang dapat diterima oleh semua orang. Idealisme merupakan bentuk kesadaran terhadap suatu objek yaitu rakyat, yang perlu diimplementasikan melalui pikiran-pikiran yang kontruksif dan memiliki nilai kebermanfaatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Maka, suatu aktivitas yang kita lakukan baik yang sifatnya sosial maupun personal, seharusnya hal itu betul-betul dapat dijalankan secara ideal, dengan berlandaskan akal budi yang kita miliki, karena ketika manusia bisa memfungsikan pikirannya secara baik dengan penuh pertimbangan yang teruji kebermanfaatannya bagi semua orang. Perpecahan, ketimpangan, dan ketidakadilan akan dapat terselesaikan, sehingga dengan demikian, menajamkan pikiran merupakan modal dasar yang perlu dimiliki oleh para penganut idealisme.

Kemudian, apa itu pragmatisme? Secara bahasa, pragmatisme berasal dari kata pragma yang memiliki arti guna. Kata pragma juga berasal dari bahasa Yunani. Secara istilah, pragmatisme merupakan suatu aliran filsafat pada abad ke-20 yang mengajarkan bahwa yang benar itu adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat pada akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis.

Jika sesuatu yang kita lakukan memiliki manfaat dan memiliki kegunaan yang bisa dirasakan secara langsung tanpa harus memikirkan nilai moralitas secara sosial dan bisa dilakukan secara fleksibel, instan, dan praktis, hal itu merupakan tindakan yang pragmatis. Antara idealisme dan pragmatisme memiliki khas dan keterhubungan yang sangat penting untuk kemudian dimanifestasikan dalam tindakan. Walaupun secara definisi memiliki makna yang berbeda, kedua hal tersebut dapat diterapkan sebagaimana mestinya. Maka, keberadaannya akan jauh lebih bermanfaat, baik secara individual maupun sosial.

Yang perlu kita telaah hari ini adalah bagaimana pengejawantahan dari antara idealisme dan pragmatisme yang terkadang tidak difungsikan secara baik. Akhirnya, menyebabkan kehilangkan makna dari keduanya. Kemudian jika menelisik fenomena hari ini, terjadinya krisis humanitas yang menjadi derita dan problem sosial di tengah masyarakat. Terjadinya hal tersebut karena pola pikir pragmatis hingga akhirnya menjadikan mahasiswa hidup cenderung individualis dan materialistis.

Di satu sisi, banyak mahasiswa ikut serta dalam organisasi, sebagai basis dalam menunjang pertumbuhan kualitas diri. Tetapi, sering kali adanya aktivis organisasi yang ternyata hanya berorientasi pada eksistensi masing-masing. Misalnya, memiliki jabatan yang strategis, agar mendapatkan pengakuan dari mahasiswa lainnya. Padahal, sejatinya ada hal yang lebih penting dan esensial, yaitu bagaimana kita bisa memfungsikan roda organisasi sebagaimana mestinya. Sesuai dengan kaidah dan norma-norma yang berlaku. Selain itu, perlu kita memikirkan bagaimana organisasi dapat hidup dan menghidupkan orang-orang yang ada di dalam atau luar organisasi.

Peran Mahasiswa


Selain dikenal sebagai kaum intelektual dan cendekiawan, mahasiswa juga merupakan pemuda harapan baru dalam melakukan perubahan setiap kompleksitas permasalahan yang hadir di masyarakat. Apalagi, kalau kita lihat fenomena hari ini, kehidupan manusia yang makin ambigu akibat modernisasi yang mengalami kegagalan dalam menciptakan kehidupan masyarkat yang berkemajuan dan berkeadaban.

Hingga akhirnya, idealitas gerakan yang sama-sama kita cita-citakan hanya menjadi angan-angan. Karena kehidupan yang secara substansial mengalami kehilangan makna esensialnya. Maka, untuk meredam banyaknya permasalahan yang ada hari ini, perlu ada beberapa hal yang harusnya dilakukan oleh kita sebagai masyarakat mahasiswa berpendidikan di perguruan tinggi. Kampus merupakan tempat untuk membangun konsep dan gagasan, yang semua itu disiapkan agar kita dapat menciptakan pemikiran sebebas mungkin.

Di antara tindakan yang bisa dilakukan oleh mahasiswa hari ini, yaitu pertama, melakukan reorientasi gagasan. Dalam hal ini saya membayangkan, melalui sebuah gagasan yang konstruksif mahasiswa akan mengetahui secara pasti bagaimana ia harus berperan karena dengan cara demikianlah dari apa yang mereka cita-citakan akan dapat dijalankan secara konsisten. Hingga dapat betul-betul terjadinya suatu perubahan, keadilan, kesejahteraan, dan lainnya.

Mahasiswa harus terbiasa untuk dapat berpikir secara sistematis dan kritis. Dalam hal ini ketika mahasiswa mampu untuk mengguakan akal pikirannya. Maka, bentuk egoisme yang kadang kala hadir pada tiap diri mahasiswa akan dapat dihilangkan karena dalam berpikir sistematis/kritis lebih mengutamakan kebenaran ideal melalui proses pengkajian yang dianalisis secara mendalam. Kemudian, tentu sudah saatnya kita sebagai mahasiswa bermuhasabah diri, di tengah kehidupan yang ambiguistis.

Upaya melakukan suatu kebaikan sebagai tanggung jawab moral tentunya harus sama-sama digelorakan oleh kita semua. Sebagaimana yang dikatakan oleh Plato, kebaikan merupakan hakikat tertinggi dalam mencari kebenaran. Salah satu cara yang bisa dilakukan, yaitu melalui penguatan ide yang dapat memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah mengetahui ide, manusia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakanya sebagai alat pengukur, mengklasifikasikan, dan menilai segala sesuatu yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

Maka, sebagai penutup, saya ingin mengakhiri dari sedikitnya tulisan yang sangat singkat ini dengan sebuah kalimat, yaitu �Jika kesalahan dibiarkan tanpa koreksi, lama kelamaan akan menjadi kelajiman.� Dalam konteks mahasiswa hari ini, ketika ada salah satu oknum mahasiswa, baik yang organisatoris maupun tidak, bersegeralah untuk menyalakan alarm sebagai bentuk pengingat. Agar peranan mahasiswa yang sejatinya menjadi tonggak kekuatan dalam menciptakan perubahan dapat terejawantahkan.

Kemudian kampanye antikemiskinan. Semangat perubahan sosial dan penegakan HAM jangan sampai hanya sebatas wacana narasi tanpa aktualisasi. Akan tetapi, semua itu perlu dimanifestasikan dalam sebuah gerakan yang nyata. Yang terakhir adalah keberadaan mahasiswa saat ini jangan sampai menjadi alat yang dipermainkan oleh kekuasaan. Apalagi, sampai menjadikan gerakan sosial politik yang selama ini digembor-gemborkan mengalami inkonsistensi karena money politic (politik transaksional). Tentunya, semangat kolektif yang dilakukan secara konsisten menjadi modal dasar agar apa yang menjadi harapan kita sebagai warga negara dapat tercapai.



Sumber:

Juhaya S.Praja,Prof., Dr. 2003. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Prenada Media:Jakarta