Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ini Alasan Hasto PDIP Tidak Protes Pencapresan Prabowo

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan alasan tidak mempersoalkan deklarasi Prabowo Subianto sebagai calon presiden atau capres dari Partai Gerindra. PDIP sebelumnya kerap mengkritik langkah Partai NasDem mendeklarasikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai capres.

"(Hanya protes NasDem) karena antitesa. Bayangkan ketika itu disampaikan sebagai suatu antitesa kepada Pak Jokowi, Pak Jokowi sedang menjabat yang juga sedang didukung oleh partai politik termasuk NasDem," ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Sekolah PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (13/10/2022). Hasto menjawab pertanyaan mengapa PDIP hanya memprotes NasDem, bukan Gerindra yang juga sudah lebih dahulu mendeklarasikan capres.

Menurut Hasto, pernyataan antitesis Jokowi dapat menciptakan kerumitan dan persoalan tata pemerintahan. Sementara, yang dibahas antara presiden dan menteri berkaitan dengan masa depan bangsa dan negara. Hasto tak ingin ini bocor ke antitesis Jokowi.

"Kalau itu bocor ke antitesanya gimana? Jadi aspek etika menimbulkan persoalan tata pemerintahan yang serius," ujar Hasto.

Dia kemudian menyinggung 23 janji kampanye capres NasDem Anies Baswedan. Menurut Hasto, ada 5 janji yang diteruskan dari program Joko Widodo. Hasto juga mempertanyakan ke mana perginya pasukan oranye, pasukan hijau dan pasukan biru.

"Mana kemudian sekarang pasukan oranye? Pasukan hijau? Pasukan biru? Itu kan mencerminkan sebenarnya tiga warna dan berbagai warna itu kan menyatu dalam kepentingan Pak Jokowi di situ," ucap Hasto.

Hasto juga menyinggung penanganan banjir dalam masa pemerintahan Anies. Bahkan selama lima tahun menjabat, hingga saat ini Anies belum melakukan pembebasan lahan.

"Jadi dari gubernur saja sudah antitesa. Nah itu kebetulan diperjelas sebagai antitesa. Ini hal yang kemudian dikritisi oleh PDI Perjuangan," ungkap Hasto.

"Nah Pak Prabowo tidak pernah berbicara antitesa, Gerindra tidak pernah berbicara antitesa. Jadi kami fair apa yang disampaikan bisa dipertanggungjawabkan secara politik, dan akademis. Karena risetnya ada," lanjutnya.

'Anies Antitesis Jokowi'

Sebelumnya, politikus Partai NasDem Zulfan Lindan berbicara soal penetapan Anies Baswedan sebagai bakal capres usungan NasDem di Pilpres 2024. Zulfan mengungkapkan partainya sudah melakukan kajian dengan pendekatan filsafat dialektika sebelum menetapkan Anies Baswedan sebagai bakal capres.

NasDem menilai Anies merupakan antitesis dari Presiden Jokowi sehingga cocok diusung sebagai bakal capres.

"Saya mau masuk alasan kenapa dipercepat (pengumuman Anies sebagai bakal capres), ini kan harus jelas dulu latar belakang. Jadi begini, ini sudah kita kaji dengan pendekatan filsafat dialektika, ini dengan pendekatan pendekatan filsafatnya Hegel," kata Zulfan, Selasa (11/10).

Zulfan menyampaikan hal itu dalam program Adu Perspektif bertema 'Adu Balap Deklarasi, Adu Cepat Koalisi' yang disiarkan detikcom dengan kolaborasi bersama Total Politik. Dia mengatakan ada perbedaan jelas antara Jokowi dan Anies.

"Pertama apa, Jokowi ini kita lihat sebagai tesa, tesis, berpikir dan kerja, tesisnya kan begitu Jokowi. Lalu kita mencari antitesa, antitesannya apa? Dari antitesa Jokowi ini yang cocok itu, Anies," kata Zulfan. [detik.com]