Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa Itu Puasa Tasua dan Asyura?

Apa Itu Puasa Tasua dan Asyura? - Puasa Asyura berasal dari kata asyrah dalam bahasa Arab, yang artinya sepuluh. Sebelum menjalankan ibadah puasa tersebut, dianjurkan memulai dengan puasa Tasua pada 9 Muharram.

Apa Itu Puasa Tasua dan Asyura?
Apa Itu Puasa Tasua dan Asyura? 

Dikutip dari sulsel.kemenag.go.id, hari Asyura merupakan salah satu hari yang dimuliakan dalam Islam.

\Bahkan, terdapat 1 hadist Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 atau puasa Tasua. Puasa Asyura dapat mengampuni dosa setahun yang lalu.


Nilai Penting yang Diajarkan Rasulullah SAW


Ada beberapa nilai penting yang diajarkan Rasulullah SAW hingga menganjurkan untuk berpuasa Tasua dan Asyura.


Puasa Tasua dan Asyura dianjurkan untuk dilaksanakan karena memiliki keutamaan seperti berikut:


1. Menebus Dosa Setahun Silam


Berpuasa Asyura dapat menebus dosa yang telah dilakukan setahun sebelumnya.


Seperti diungkapkan Abi Qatadah, bahwasanya Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, Beliau menjawab: “Menebus dosa tahun yang lalu.” (HR.Muslim).


2. Mengikuti Anjuran Rasul


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: "Rasulullah telah berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan supaya orang-orang berpuasa." (HR Muslim).


Abu Hurairah ra. juga berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: "Hari ini adalah hari Asyura, dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Dan saya sekarang berpuasa, maka siapa yang suka, berpuasalah. Dan siapa yang tidak suka, berbukalah!".


Aisyah ra., istri tercinta Rasulullah SAW menceritakan bahwa hari Asyura adalah hari dimana orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah biasa berpuasa.

Rasulullah juga biasa berpuasa pada hari tersebut.


Dan ketika datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa.

Akan tetapi tatkala difardukan puasa Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa, dan siapa yang tidak ingin berpuasa, ia berbuka.” (HR. Bukhari Muslim).


Melihat cerita Aisyah tersebut, tampak Rasulullah setengah mewajibkan puasa Asyura.


Meski kemudian ketika puasa pada bulan Ramadhan diwajibkan.


3. Keutamaannya di Bawah Puasa Ramadhan


Selain ungkapan Aisyah, ada lagi sebuah hadis yang diungkapkan Abu Hurairah, bahwa puasa pada bulan Muharram keutamaannya tepat di bawah puasa Ramadhan.


Menurut Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah ditanya: “Shalat manakah yang lebih utama setelah shalat fardhu?”


Nabi bersabda: “Yaitu shalat di tengah malam.”


Mereka bertanya lagi: “Puasa manakan yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?”