Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wali Santri Ponpes Shiddiqiyyah Keberatan Anaknya Disuruh Pindah Pesantren

Berita Aktual_Kemenag Kabupaten Jombang mengimbau para wali santri Ponpes Shiddiqiyyah memindahkan anak-anak mereka ke pesantren lain. Namun, pengurus pesantren di Desa Losari, Ploso, Jombang itu menyebut para wali santri maupun santri sendiri keberatan untuk pindah.

"Justru itu kami melihat wali-wali murid, anak didik kami justru merasa keberatan itu (pindah ke pesantren lain)," kata Ketua Umum Organisasi Shiddiqiyyah (Orshid) Joko Herwanto, Jombang, Sabtu (9/7/2022).

Joko menyebutkan, para wali santri dan para santri keberatan untuk pindah ke pesantren lain karena sudah sejak lama mereka mencintai Ponpes Shiddiqiyyah.

"Kalau tiba-tiba kebijakan (pencabutan izin Ponpes Shiddiqiyyah oleh Kemenag) berimbas kepada mereka untuk harus pindah dan sebagainya, itu keberatan yang semua pihak harus mengetahuinya," jelasnya.

Imbauan untuk para wali santri Ponpes Shiddiqiyyah tersebut disampaikan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Jombang Taufiqurrohman pada Jumat (8/7). Imbauan tersebut ia keluarkan menyusul keputusan Kemenag pusat yang mencabut izin Ponpes Majma'al Bachroin Hubbul Wathon Minal Iman.

"Terkait peserta santri didik di ponpes tersebut diadakan pendekatan oleh teman-teman Kemenag Kabupaten Jombang, yakni oleh seksi PD Pontren. Diimbau para wali santri untuk menarik peserta didik dan diarahkan ke ponpes yang aman," kata Taufiqurrohman.

Taufiqurrohman menjelaskan, pencabutan izin yang dilakukan Kemenag pusat membuat kegiatan pendidikan di Ponpes Shiddiqiyyah tidak diakui pemerintah. Termasuk pelayanan pendidikan program kesetaraan paket B dan C di pesantren tersebut. Menurutnya, pesantren ini mempunyai 1.041 santri.

Pencabutan izin Ponpes Shiddiqiyyah, kata Taufiqurrohman murni karena kasus pencabulan santriwati yang menjerat putra pimpinan pesantren tersebut, Moch Subchi Azal Tsani atau Mas Bechi (42). Karena hasil survei yang dilakukan Kemenag Kabupaten Jombang beberapa minggu terakhir memastikan tidak ada masalah pada pendidikan di pesantren ini.

"Ini berkaitan dengan kasus yang kita ketahui bersama terjadinya peristiwa MSA yang telah melakukan tindakan tak sesuai ruh ponpes. Kami khawatir karena terjadi hal yang demikian maka Kemenag mengimbau para wali santri untuk menarik putra putri mereka untuk diarahkan ke pondok yang lebih baik, pondok yang aman," jelasnya.

Tindakan tegas Kemenag mencabut izin Ponpes Shiddiqiyyah diambil karena salah satu pemimpinnya, Mas Bechi merupakan DPO kepolisian dalam kasus pencabulan terhadap santri. Pihak pesantren juga dinilai menghalang-halangi proses hukum terhadap yang bersangkutan.

Penjemputan paksa Subchi dilakukan pasukan gabungan Polda Jatim dan Polres Jombang di Ponpes Shiddiqiyyah, Desa Losari, Kecamatan Ploso sejak Kamis (7/7) sekitar pukul 06.00 WIB. Polisi sempat mendapat perlawanan dari ratusan simpatisan, jemaah dan santri Ponpes Shiddiqiyyah. Sehingga 323 orang diamankan ke Mapolres Jombang.

Pihak pesantren menyebut saat polisi melakukan penggerebekan, Mas Bechi sedang tidak di pondok. Mas Bechi akhirnya menyerahkan diri ke polisi sekitar pukul 23.00 WIB. DPO pencabulan santriwati itu langsung dibawa ke Mapolda Jatim untuk ditahan di Rutan Medaeng.

Keesokan harinya, Jumat (8/7), 318 simpatisan, jemaah dan santri Ponpes Shiddiqiyyah yang sempat diamankan, dipulangkan. Sedangkan 5 simpatisan Mas Bechi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Polres Jombang karena melawan polisi.


Sumber : Detik.com

Demikian informasi ini semoga bermanfaat, silahkan simak informasi lainnya dibaah ini.