Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Viral Video Murid SMK Kritik Disiplin Sekolah: Bangun Pagi ke Sekolah Buat Apa?

Berita Aktual_Dalam beberapa jam terakhir seorang murid SMA menjadi perbincangan hangat sejumlah warganet. Sosok murid SMA tersebut diketahui menulis sebuah esai mengkritik aturan sekolah. Bahkan, video yang menunjukkan sosoknya sedang diwawancara pun beredar di berbagai media sosial. 

Sosok murid SMK tersebut mengutarakan pendapatnya dengan diwawancarai oleh salah satu penulis terbaik di Indonesia, Okky Madasari. 

"Disiplin untuk apa? Anak SMK penulis Omong-Omong ini mengemukakan pandangan kritisnya terhadap disiplin yang diterapkan di sekolah. Indonesia butuh bukan hanya anak pandai tetapi juga anak kritis dan kreatif," tulis akun @omongomongcom.

Di awal video muncul dua sosok. Sosok di sebelah kiri adalah pewawancara, yaitu Okky Madasari dan di sebelah kanan adalah Rafi, murid SMK yang menulis esai mengkritik sekolah di Indonesia. 


"Yang nggak jelas itu kan pendidikan kita," ucap Rafi. 

Setelah itu, Okky menyatakan bahwa jika memang pendidikan di Indonesia nggak jelas tetapi menghasilkan sosok kritis seperti Rafi. 

Video tersebut memang terlihat hanya cuplikan saja yang diambil dari sejumlah klip atau potongan-potongan video yang kemudian dijadikan satu. 

"Setelah ketemu filsafat, saya rasa, ranking ini sebenarnya hanya ilusi sosial saja. Jadi saya nggak peduli karena itu semua politis ya karena diatur pemerintah itu. Akhirnya salah satu doktrin sekolah yang paling saya soroti adalah soal kedisiplinan. Disiplin itu sebetulnya sifatnya ilutif. Kenapa ilusinya bisa dipertahankan? Karena ada ketimpangan relasi kuasa," ucap Rafi. 

Setelahnya, Rafi juga menyampaikan ketidaksukaannya dari aktivitas sekolah yang diharuskan bangun pagi. Ia juga menyebut jika kedisiplinan bisa menjadi jalan menempuh kesuksesan itu kesuksesan yang mana.

"Disiplin itu adalah sebuah objek hasrat. Lalu apa objek penyebab hasratnya? Objek penyebab hasratnya adalah ketakutan akan hukuman. Ketakutan akan celatuan atau celaan tetangga. Ketakutan dia tidak bisa narsis caper kepada guru. Ketakutan akan nilai," ucap Rafi. 

Dengan begitu, menurut Rafi, keinginan murid untuk berangkat sekolah bukan ingin menjadi seorang yang disiplin.

"Tetapi agar diakui guru, takut hukuman dan segala macam," pungkas Rafi. 

Tak pelak, video unggahan akun Twiter @omongomongcom ini pun mendapatkan respons yang begitu besar dari warganet. 

"Pertama kali orang baca buku2 pilsapat," sahut akun @pandueka_.

"Pengetahuan filsafat yg dipunya Rafi ini keren, tpi sayangnya implementasi dan analisisnya trlalu mentah dan belum ketemu sama 'realitas'. Ini pemikiran yg masih berdasar 'ego' krna sentral pemikirannya bukan dari analisis trhdap sekitar tpi hanya keresahan sendiri," balas akun @iaintstrongbtw. 

"gw setuju sama Mas Rafi ini. mindset pendidikan di Indonesia itu didasari oleh ketakutan, narsisme terhadap guru, dsb. sehingga terpatri di otak kita bahwa kita menjalankan sesuatu yang 'baik' (secara kultur) hanya karena takut dicap jelek, takut akan hukuman, takut melawan." sahut akun @kidompit.

"Ini lucu juga banyak yg trigger krn fafifu wkwk. Padahal anaknya keren bisa bangun opini sebagus itu, apalagi anak smk yang mana tugasnya lebih banyak praktiknya. Lagian juga nda masalah sih mumpung masih muda dibanyakin buat belajar, suatu saat pandangannya juga bisa jd berubah," timpal akun @fortunees_.

"Kalo semakin banyak anak SMK yang suka filsafat kayak rafi ini, saya yakin tawuran akan berkurang. Medan tawurannya akan pindah dari jalanan ke alam fikiran," ungkap akun @Hanifhav.

Video unggahan tentang sosok Rafi ini pun telah ditonton lebih dari 1,2 juta kali dan disukai lebih dari 12 ribu kali.


Sumber : Akurat.co

Demikian informasi ini semoga bermanfaat, silahkan simak informasi lainnya dibawah ini.