Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tiga Tahun Nggak Dapat Murid Baru, Sekolah SD Ini Terpaksa Harus Tutup

Berita Aktual_Beda dengan sekolah-sekolah lain yang sudah melakukan aktivitas belajar mengajar di tahun ajaran baru, SD Kanisius Trengguno justru harus tutup. Keputusan berat ini diambil karena nggak ada satu pun murid baru masuk ke sekolah dalam tiga tahun terakhir.

SD ini berlokasi di Padukuhan Trengguno, Kelurahan Sidorejo, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta. Memang, masih ada sejumlah murid yang terlihat di halaman sekolah pada Selasa (12/7/2022). Namun, tetap saja suasananya sangat sepi.

“Di sini sudah tidak tahun terakhir tidak menerima murid,” jelas Kepala Sekolah SD Kanisius Trengguno Agnes Rinawati di sekolah yang didirikan pada 1973 tersebut.

Kali terakhir sekolah ini menerima murid adalah pada tahun ajaran 2019/2020. Itu pun hanya 2 orang yang mendaftarkan diri. Pada tahun-tahun sebelumnya, jumlahnya juga nggak pernah melebihi 10 orang. Pada tahun ajaran 2018/2019, ada 6 siswa yang jadi murid baru, sementara pada tahun ajaran 2017/2018, hanya 7 siswa yang masuk kelas 1.


Padahal, saat Agnes mulai bekerja di sekolah ini pada 1991, SD Kanisius selalu menerima puluhan siswa setiap kali ajaran baru. Bahkan, meski sekolah ini dibina oleh yayasan katolik, kala itu muridnya berasal dari berbagai kalangan agama.

Tahun demi tahun berganti, jumlah murid yang mendaftar semakin sedikit. Kini, hanya tinggal 11 murid yang bersekolah di kelas 4, 5, serta 6. Total guru yang mengajar juga hanya tinggal 3 orang, termasuk Agnes yang mengajar Kelas 5.

Ada sejumlah alasan yang membuat SD ini sampai kekurangan murid. Salah satunya adalah banyaknya sekolah di sana. Otomatis, SD Kanisius Trengguno harus bersaing dengan sekolah lainnya.

“Satu kalurahan saja ada 6 SD. Jadi ya muridnya semakin sedikit,” lanjut Agnes.

Di sisi lain, Sekretaris Dinas Pendidikan Gunungkidul Winarno justru menyebut tutupnya SD Kanisius Trengguno sebagai dampak dari keberhasilan program Keluarga Berencana (KB).

“Itu mungkin dampak dari keberhasilan KB. Tahun ini saja lulusan TK sekitar 7.500, sedangkan kuota SD kan sekitar 14 ribu. Wajar jika ada beberapa SD yang mendapatkan sedikit murid,” ungkap Winarno di hari yang sama.

Satu hal yang pasti, Winarno nggak mempermasalahkan penutupan SD Kanisius Trengguno karena hal ini adalah hak yayasan. Beda cerita kalau sekolah yang kekurangan murid adalah sekolah negeri. Biasanya, Kemendikbud Ristek bakal menawarkan sekolah tersebut untuk melakukan regrouping.

Lantas, bagaimana dengan nasib para guru setelah SD Kanisius Trengguno ditutup? 

Menurut Agnes, dua guru yang sudah berstatus ASN bakal dipindah ke sekolah negeri. Sementara itu, 1 orang yang merupakan guru yayasan bakal dipindah ke sekolah lain yang masuk dalam binaan Yayasan Kanisius. Hal serupa juga bakal diberlakukan pada operator sekolah dan penjaga perpustakaan. 

Duh, cukup disayangkan ya jika melihat sebuah sekolah sampai tutup karena kekurangan murid, Millens?


Sumber : Inibaru

Demikian informasi ini semoga bermanfaat, silahkan simak informasi lainnya dibawah ini.