Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Malam 1 Suro: Pengertian, Sejarah dan Peringatannya

Malam 1 Suro: Pengertian, Sejarah dan Peringatannya - Malam 1 Suro merupakan malam sebagai pertanda awal bulan pertama dalam kalender Jawa. Malam 1 Suro juga bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriah atau kalender Islam.

Malam 1 Suro: Pengertian, Sejarah dan Peringatannya
Malam 1 Suro

Bisa jadi masih ada sebagian masyarakat yang belum tahu betul apa itu malam 1 Suro. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang malam 1 Suro, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.


Apa itu Malam 1 Suro?


Pengertian malam 1 Suro adalah apa dimuat di laman resmi Kemendikbud RI tentang Satu Suro. Satu Suro adalah awal bulan pertama Tahun Baru Jawa yakni di bulan Suro. Penanggalan satu suro mengacu pada kalender Jawa.



Suro diperingati pada malam hari setelah maghrib pada hari sebelum tanggal 1 Suro. Hal itu karena dalam kalender Jawa pergantian hari dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam sebagaimana pergantian hari dalam kalender masehi.


Perayaan Malam 1 Suro

Malam 1 Suro sangat lekat dengan budaya Jawa. Perayaan malam 1 Suro biasa diadakan ritual tradisi iring-iringan rombongan masyarakat atau biasa disebut kirab. Perayaan malam 1 Suro biasa dilangsungkan di beberapa daerah di Jawa.


Perayaan malam 1 Suro di Solo biasa dirayakan dengan adanya hewan khas kebo bule. Kebo bule sendiri bukan sembarang kerbau melainkan Kebo Bule Kyai Slamet yang dianggap keramat oleh masyarakat dan termasuk pusaka penting milik keraton.


Perayaan malam 1 Suro di Yogyakarta biasanya selalu identik dengan keris dan benda pusaka sebagai bagian dari iring-iringan atau kirab. Selain itu, ada juga hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng serta benda pusaka menjadi sajian khas dalam iring-iringan atau kirab.


Perayaan malam 1 Suro menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan. Pada Malam 1 Suro juga biasa diselingi pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya. Hal itu bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.


Perayaan malam 1 Suro pada umumnya selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan melakukan kebaikan-kebaikan sepanjang bulan Suro.



Sejarah Malam 1 Suro

Seperti diketahui, malam 1 Suro juga bertepatan dengan tanggal 1 Muharam. Sejarah ditetapkannya 1 Muharram sebagai awal penanggalan dalam kalender hijriah atau kalender Islam adalah oleh Khalifah Umar bin Khattab.


Adapun sejarah malam 1 Suro atau awal penanggalan dalam Kalender Jawa itu konon untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa. Pada tahun 931 H atau 1443 tahun Jawa baru, yaitu pada zaman pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender hijriah dengan sistem kalender Jawa pada masa itu.


Kala itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menggempur Belanda di Batavia, termasuk ingin menyatukan Pulau Jawa. Oleh karena itu, dia tidak ingin rakyatnya terpecah belah karena perbedaan keyakinan agama.


Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan. Untuk itu, pada setiap hari Jumat legi, dilakukan laporan pemerintahan setempat sambil dilakukan pengajian yang dilakukan oleh para penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul ke makam Ngampel dan Giri.


Dengan begitu, 1 Muharram atau 1 Suro Jawa yang dimulai pada hari Jumat legi juga ikut dikeramatkan. Bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut di luar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul.


Demikian informasi seputar Malam 1 Suro. Semoga bermanfaat.