Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kalau Guru Berhenti Belajar, Selesai Sudah Pendidikan Indonesia

Kalau guru berhenti belajar, guru berhenti berkreasi, maka selesai sudah pendidikan di Indonesia. Sepenggal pepatah sederhana penuh makna dipaparkan Direktur Dasar Tanoto Foundation, Ari Widowati di depan para guru dan Kepala Sekolah binaan Program PINTAR Penggerak di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. 

Pasalnya, semangat guru untuk terus belajar, didapati mampu mencegah terjadinya learning loss atau kehilangan pembelajaran akibat pandemi Covid-19. Bahkan, semangat guru untuk berinovasi, mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. 

Belinda Tanoto, selaku Dewan Pembina Tanoto Foundation menjelaskan bahwa 76 persen guru mitra program PINTAR sudah berinovasi untuk menerapkan pembelajaran aktif, naik dari 42 persen pada tahun 2018.

Berdasar evaluasi dari dampak pelatihan guru di program PINTAR tersebut, pencapaian siswa di sekolah mitra cenderung stabil, meskipun dua tahun tidak bertatap muka. Itulah mengapa, peningkatan kualitas tenaga pendidik atau guru, dinilai Belinda merupakan jalan efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. “Ini bisa tercapai karena kontribusi dan dedikasi para pendidik,” ucapnya dalam sambutan acara Tanoto Facilitator Gathering (TFG), yang berlangsung secara hybrid, Senin-Selasa (4-5//2022).


Mengintip ragam praktik baik guru-guru Indonesia

Sejak tahun 2021, Tanoto Foundation berkolaborasi dengan Kemendikbud Risek melalui melalui Program PINTAR Penggerak telah hadir di 4 kabupaten mitra. Yakni Kabupaten Kampar (Riau), Kabupaten Muaro Jambi (Jambi), Kabupaten Tegal (Jawa Tengah) dan Kabupaten Kutai Barat (Kalimantan Timur) untuk melatih dan mendampingi kepala sekolah, guru dan orangtua di 263 SD dan SMP.

Manfaat pelatihan dan pendampingan tersebut dirasakan oleh Saridewi, seorang guru matematika di SMPN 3 Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. Dewi mengatakan, pelatihan yang didapatkan selama mengikuti program PINTAR mendorongnya untuk berani menghadirkan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswanya. 

Sebab, Dewi memiliki keinginan mulia, yakni membuat siswanya menikmati pelajaran matematika. Ia mengatakan, matematika semestinya bukan untuk ditakuti. Ia pun memutar otak, hingga akhirnya tercetus ide untuk mengajarkan matematika melalui permainan, salah satunya ular tangga. "Inginnya matematika digemari, bukan ditakuti. Karena selama ini kan ditakuti. 

Jadi, makanya saya berpikir bagaimana cara yang bagus supaya kita bisa mengaplikasikannya ke dalam permainan," ucap Dewi di sela acara kunjungan Kemendikbud Ristek di SMPN 3 Tapung sebagai rangkaian dari acara Tanoto Fasilitator Gathering.

Dewi meyakini bahwa metode belajar harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sehingga metode pembelajaran lama yang cenderung satu arah, harus segera diubah. 

"Saya lihat anak-anak senang kalau bermain game. Akhirnya saya hadirkan game untuk belajar," ucapnya. Ia bersyukur, karena kini Kemendikbud Ristek melalui Merdeka Belajar memberikan kebebasan guru dalam membuat metode belajar sesuai kebutuhan siswa. 

Membuat Dewi tak segan untuk membantu tiap siswanya yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran matematika. "Kalau di dalam, anak itu saya anggap kawan. Yuk, kita main. Yuk apa yang kalian bisa, apa yang kalian tidak bisa. Kalian ada ide apa," ujarnya penuh antusias dalam membangun semangat siswa dalam belajar.

Selain Dewi, pembelajaran yang berfokus pada murid juga diwujudkan oleh Hayati, Kepala Sekolah SD 019 Tanjung Sawit, Kabupaten Kampar, Riau. Pendampingan Program PINTAR Penggerak membuat sekolahnya menerapkan pembelajaran aktif dengan konsep MIKIR, yakni mengalami, interaksi, komunikasi dan refleksi.

Termasuk penerapan pembelajaran berbasis proyek yang salah satu proyeknya ialah mengajarkan murid memanfaatkan barang bekas berupa botol mineral menjadi kursi. Hayati mengatakan, pembelajaran aktif ini membuat murid lebih senang belajar. “Pasti ya, sebab guru sudah banyak terlibat di situ, melibatkan siswa dalam pembelajaran, jadi siswa senang,” ujarnya.


Tugas guru adalah menuntun, bukan menuntut

Semangat berinovasi Dewi pun mendapat pujian Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Syahril. Iwan menjelaskan, fokus utama Merdeka Belajar ada pada tiga hal. "Fokus utama kita adalah kepada tiga hal. Pertama adalah murid, kedua adalah murid, ketiga adalah murid. 

Hyper fokus luar biasa. Titik temunya ada di anak-anak kita," ujar Iwan dalam kunjungannya ke sekolah binaan Program PINTAR Penggerak Tanoto Foundation di Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. Iwan mengatakan, ini sejalan dengan filosofi Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Bahwa salah satu tugas seorang guru ialah selalu membangkitkan semangat, bukan melemahkan semangat. Itulah mengapa, lanjut Iwan, semua program yang telah dijalankan Kemendikbud Ristek, baik dengan Tanoto Foundation sebagai organisasi penggerak, guru penggerak, sekolah penggerak, adalah upaya gotong-royong dalam mencari solusi bersama.

"Apapun programnya, tujuan kita adalah problem solving, memecahkan masalah untuk anak-anak kita. Kita itu mencerdaskan generasi masa depan bangsa, SDM unggul untuk Indonesia Maju, itu tujuan kita bersama. Ujung-ujungnya, tujuan kita adalah untuk membuat anak-anak kita lebih baik, memiliki keterampilan sesuai kodrat zamannya, sesuai dengan kodrat anaknya," tuturnya.

"Apapun programnya, tujuan kita adalah problem solving, memecahkan masalah untuk anak-anak kita. Kita itu mencerdaskan generasi masa depan bangsa, SDM unggul untuk Indonesia Maju, itu tujuan kita bersama. Ujung-ujungnya, tujuan kita adalah untuk membuat anak-anak kita lebih baik, memiliki keterampilan sesuai kodrat zamannya, sesuai dengan kodrat anaknya," tuturnya.


Sumber : Kompas.com

Demikian informasi ini semoga bermanfaat, silahkan simak informasi lainnya dibawah ini.