Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dilema Guru yang Mengajar di Kelas yang Dihuni Satu Siswa

Berita Aktual_Berada di lokasi strategis dekat dengan jalan protokol belum menjadi garansi menarik minat orang tua siswa menyekolahkan anaknya di SDN Sriwedari. Ironisnya, tahun ini sekolah ini hanya mendapat satu siswa.

Gedung SDN Sriwedari sebenarnya tidak kalah dengan sekolah-sekolah lain. Bangunan sekolah masih tampak kokoh, halaman juga cukup luas dengan pohon-pohon rindang. Sementara di dalam kelas juga tampak tertata rapi. Namun, tetap saja peminat di sekolah ini dari tahun ke tahun tetap minim.

Kondisi ini sempat menjadi beban bagi guru yang mengajar di sekolah itu. Hal ini dirasakan oleh Sulistyo Didik Purnomo, guru olah raga di SD setempat. Stigma para guru tidak mampu mengelola sekolah dengan baik semakin menambah beban psikologis.

“Sempat ramai di media sosial yang mengatakan, enak dong gurunya tidak mengajar tapi tetap dibayar. Itu kadang yang membuat kami merasa kurang enak di hati,” ujarnya.

Padahal, kata Sulistiyo, kurangnya pendaftar ke sekolahnya tidak semata-mata karena faktor guru. Tapi bisa saja karena selama dua tahun terjadi pandemi lulusan  PAUD/TK juga menyusut. “Jadi, jangan kami terus yang disorot,” ucapanya.

Faktor lain, sedikitnya siswa yang mendaftar juga karena adanya kabar regrouping sekolah sehingga masyarakat lebih memilih untuk tidak mendaftar sekalian. Selain itu, banyaknya pilihan sekolah swasta juga menjadi faktor sekolah negeri kurang dilirik masyarakat.

“Kabarnya memang akan ada regrouping karena memang dari tahun ketahun jumlah murid kami hanya sedikit. Jika memang diregrouping kami malah senang, karena sarana dan prasarana juga akan jauh lebih baik. Terutama jumlah murid akan bertambah. Kalau muridnya banyak semangat mengajar  juga semakin tinggi,” tandasnya.

Sulistyo mengatakan, banyak tantangan dan perjuangan dalam mengembangkan pendidikan di tengah beban psikologis itu. Namun, dia memastikan meski hanya satu atau dua siswa pembelajaran tetap akan dilakukan dengan maksimal.

Di bagian lain, keberadaan fasilitas pendidikan di dekat lingkungan rumah tinggal tidak melulu jadi alasan orang tua untuk menitipkan pendidikan formal sang buah hati di sekolah itu. Orang tua siswa cenderung memilih sekolah karena latar belakang prestasi sekolah dan fasilitas yang dirasa lebih unggul dari sekolah lainnya.

Hal inilah yang menjadi dasar Aji Barata dan istri dalam mencari sekolah terbaik bagi sang anak yang tahun ini masuk jenjang sekolah dasar. Meski rumahnya hanya berjarak 500 meter dari dua sekolah dasar di wilayah Kerten, dia memilih memasukkan anaknya ke SD swasta berbasis agama di dekat rumahnya juga.

“Sebagai minoritas saya pernah sekolah di SD negeri. Kalau pelajaran agama itu saya selalu di luar kelas karena tidak ada guru pengampunya. Meski situasi seperti ini sekarang sudah jarang, saya pilih memasukkan anak ke sekolah berbasis agama sekalian biar pendidikan agama dan umum seimbang,” ujarnya.

Meski harus mengeluarkan uang lebih banyak mengingat uang pendaftaran dan SPP sekolah swasta jauh lebih mahal, namun itu tidak masalah. Sebab, secara kualitas anaknya mendapatkan pendidikan yang baik.

“Biaya masuk dan SPP ya lumayan. Kalau di negeri kan gratis, jadi tidak bisa dibandingkan. Ini juga pilihan anak saya sendiri karena teman-teman TK-nya dulu juga banyak yang masuk ke sana. Jadi mudah adaptasi. Keluarga besar juga setuju semua dengan sekolah yang kami pilih,” papar Aji Barata.


Sumber : Radarsolo.id

Demikian informasi ini semoga bermanfaat, silahkan simak informasi lainnya dibawah ini.