Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Catatan Guru Ataya Di Program Guru Belajar

Catatan Guru Ataya di Program Guru Belajar


Menjelang masuk pembelajaran pada semester 2 Tahun pelajaran 2020/2021, guru ataya mengikuti Bimtek Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum SMP - Angkatan 1 ( 4 s.d. 8 Januari 2021). 

Seri Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah Program pembelajaran yang dirancang bagi Guru dan Kepala Sekolah untuk dapat meningkatkan kompetensi berdasarkan literasi dan numerasi yang diharapkan dapat lebih mendorong perbaikan mutu pembelajaran di portalnya guru belajar https://gurubelajar.kemdikbud.go.id/

Program Guru Belajar adalah salah satu cara untuk mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dimiliki, mengevaluasi diri serta mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. Pembelajaran pada Program Guru Belajar merupakan upaya mendorong perbaikan dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

Dimasa pandemi covid-19 kemendikbud.go.id membuka diklat dan pelatihan secara online yang meliputi Program Guru Belajar Seri Pandemi Covid-19, Seri Pendidikan Keterampilan Hidup (PKH), dan Program Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) serta Program Guru Belajar Seri Pendidikan Inklusif. Guru Ataya mencoba menjadi bagian dari peserta yang bersemangat untuk terus mengembangkan diri.

Dari diklat dan bimtek yang yang sudah diikuti ada beberapa hal yang menjadi catatan buat guru dan mudah-mudahan ini bermanfat dan bisa berkontribusi bagi dunia pendidikan kita.

Jumlah guru yang ada di negeri sangat banyak, sekitar 4.107.465 guru. Selama ini belum ada pelatihan yang bisa menyentuh seluruh guru dengan jumlah tersebut. Pelatihan hanya bisa menyentuh sebagian kecil dari jumlah guru. Diklat konvensional, 1  kali angkatan paling sekitar 100 s.d 150.000. Itu hanya 1 : 4.107.465 alias 0,004%. Jadi jauh lebih banyak guru yang tidak merasakan pelatihan, entah karena tidak ditunjuk atau memang tidak mau mengikuti pelatihan.

Kita lihat pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh P4TK ataupun LPMP pun terbatas. Yang online pun tidak bisa masiv. Sementara program pelatihan yang digagas pemerintah mulai dari GP, PKB, PKP, PGP (Program Guru Penggerak), masih sangat jauh untuk menyentuh seluruh guru. Di kabupaten Sukabumi saja belum semuanya dapat kuota. Progran Guru Belajar sebenarnya adalah solusi, karena bisa menjangkau jauh lebih banyak peserta. Seri AKM menjangkau sekita 1000 peserta tiap angkatannya, ada 11 angkatan, jika terpenuhi berarti ada 11.000 Jauh lebih banyak dari pelatihan konvensional. Itu pun masih sangat kecil bila dibanding jumlah guru, cuma 2,67%. Kenapa bisa menjangkau lebih banyak? Karena sistemnya MOOC (Massive Open Online Courses). Di Program Guru Belajar ini tidak ada instruktur yang berupa manusia (Guru). Kelihatannya tidak mungkin menyediakan instruktur untuk 11.000 peserta untuk satu jenis Bimtek Konvensional lagi, karena butuh diklat berjenjang.

Kelebihan bisa menampung banyak peserta, namun kekurangannya ilmu yang didapat kurang dalam dan sebatas pengetahuan, karena tidak ada tugas berat yang dikerjakan. Tugas bisa diakali, satu jam atau dua jam jika jaringan internet stabil dan lancar diklat bisa selesai dikerjakan. Coba saja, ketika peserta diminta membuat buat soal AKM, bisa kita tulis kata SOAL saja, masuk/lolos juga. Ketika diminta bikin RPP, saya unggah "RPP Ala Guru Ataya". Saya tidak berbuat curang, cuma menguji sistem saja.

Guru Belajar yang begitu masiv, pasti masih banyak yag tidak tahu atau tidak mau tahu. Apapun itu kekurangan dan kelebihannya, yang penting kita mensikapinya dengan bijak. Mau ikut pelatihan asal dapat sertifikat atau ikut pelatihan untuk menambah kompetensi kita selaku guru di abad milineal ini dengan sikap jujur dan bertanggungjawab, sertifikat bonusnya ! Pilihan ada pada ibu bapak guru.