Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menulis Itu Menghidupkan Peradaban



GHIRAHBELAJAR.COM - Menulis Itu Menghidupkan Peradaban 

Oleh: Ahmad Soleh

Pernahkah kamu mendengar sebuah ungkapan yang berbunyi, “Suatu peradaban ada di tangan penulis.” Ya, bagi kamu yang pernah membaca buku Buya Hamka pasti pernah menemukan sekilas tentang ungkapan ini. Hamka menegaskan dalam tulisannya bahwa penulis atau pengarang adalah pembina peradaban. Istilah pembina ini bukanlah suatu yang sederhana lho. Bila kamu lacak dalam struktur social kita, pembina itu berada di atas anggota bahkan di atas para pejabat struktural. Misalnya, dewan pembina suatu organisasi. Ia pasti berada di luar organisasi tersebut. Contoh lainnya dewan pembina partai bulan sabit, misalnya. Itu berarti pembina tersebut berada di atas para pimpinan partai. Mungkin bila kita menyejajarkan dengan struktur lainnya, pembina berada sejajar dengan penasihat. 

Bila kamu pernah mengikuti organisasi kepanduan pramuka, kamu pasti sudah akrab dengan panggilan “kakak pembina”. Kakak pembina ini biasanya diambil dari kalangan guru yang berpengalaman dalam kepramukaan. Pembina dalam struktur pramuka tugasnya adalah memberikan pembinaan agar anggotanya menjadi manusia berkepribadian, berwatak, dan berbudi pekerti luhur, menjadi warga negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna. Dan itu bukanlah tugas yang ringan. 

Selain itu, bila kita mengambil makna dalam kamus besar, pembina artinya orang yang membina atau pembangun. Membina sendiri bermakna membangun atau mendirikan. Ini biasa digunakan dalam ungkapan “membina rumah tangga”. Yang artinya membangun keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah dengan sang istri atau suami tercinta. Sehingga, rumah tangga menjadi jalan untuk mencapai surga dan ridha-Nya. Loh kok jadi bahas ke nikah-nikah. Oke sebelum makin baper bahas nikah dan keluarga sakinah, mari kita lanjut ke pembahasan kita. 

Kembali ke makna katanya, membina juga berarti “mengusahakan agar menjadi lebih baik, maju, dan mendekati sempurna”. Jadi, pembina peradaban itu artinya orang yang berusaha dengan sekuat tenaga dan pikirannya agar suatu peradaban menjadi makin baik, makin maju, dan sesempurna mungkin. Fahd Pahdepie, influencer dan entrepreneur milenial, pernah mengatakan bahwa suatu peradaban itu digerakkan oleh penulis. “Dunia ini, peradaban ini digerakkan oleh mereka yang berkarya, oleh mereka yang punya gagasan, lebih spesifik lagi oleh mereka yang menulis,” ujar Fahd di kanal Youtube-nya. 

Secara sederhana, Fahd memberikan contoh bagaimana sirkulasi sebuah gagasan bisa menghidupkan peradaban. Dengan gagasan seorang penulis, industri percetakan bisa hidup. Di sana ada editor, proofreader, layouter, dan berbagai sumber daya manusia lainnya yang turut bekerja dan memperoleh penghasilan. Masuk ke percetakan, di sana ada buruh cetak, penyusun buku, tukang lem, dan lainnya juga turut hidup industrinya. Setelah itu buku masuk ke dalam rantai distribusi. Di sana ada pengirim, pengangkut, sopir, dan sebagainya. Sampailah buku di sebuah toko buku. Di sana ada karyawan mulai dari penjaga toko, sekuriti, sampai kasir. Semua profesi dan pekerjaan dalam rantai industri sebuah buku bisa hidup lantaran adanya gagasan dari penulis. Bayangkan bila tak ada penulis, tak ada gagasan, tentu industri di atas tidak akan berjalan. 

Poin penting dari apa yang diungkapkan Mas Fahd adalah pentingnya suatu gagasan. Karena gagasan itulah yang membuat dunia ini berjalan. Gagasan itulah yang membuat peradaban ini bergerak. Ya, saya sepakat sekali bahwa sebuah gagasan itu bak bola salju. Berawal dari satu kepala kemudian menggelinding, makin membesar dan makin membesar. Segala yang ada di sekitarnya turut merasakan kekuatan gagasan. Bisa kita bayangkan peradaban kita hari ini bila tidak ada tokoh-tokoh pada masa lalu yang menuliskan gagasannya. Mungkin kacau atau lebih mungkin lagi kita menjadi manusia primitif tanpa adanya peradaban, teknologi, bahkan mungkin tak ada agama. Karena agama itu sendiri kita dapatkan dari wahyu yang dituliskan dalam sebuah mushaf. Menyusun ayat-ayat Al-Quran ke dalam mushaf adalah gagasan yang sangat luar biasa revolusioner. 

Bagi manusia, gagasan itu adalah sesuatu yang amat berharga. Gagasan adalah salah satu wujud dari karunia besar Tuhan kepada kita. Allah telah memberikan kita akal dan pikiran yang merupakan kelebihan manusia dibandingkan makhluk Allah lainnya. Bahkan ketika Allah memerintahkan para malaikat dan iblis untuk tunduk kepada manusia, Allah mengetes Adam dengan menyebutkan nama-nama benda. Ya, Allah memberikan pembuktian bahwa manusia layak menjadi khalifah fil ardh dengan kemampuan intelektualnya. 

Oke, kembali ke laptop. Menulis adalah merawat dan membangun peradaban. Kenapa merawat? Karena sejatinya kita menghidupkan apa yang sudah ada selama ini. Hal itu sebagai konsekuensi bagi saya, kamu, dan semua yang punya hati dan otak yang senantiasa mau merefleksikan diri dan apa yang ada di sekitarnya. Merawat peradaban adalah merawat gagasan-gagasan gemilang yang telah membangun peradaban ini dengan segala relevansinya. Mulai dari agama, filsafat, ilmu pengetahuan, hingga teknologi termutakhir. 

Kemudian disebut membangun karena sejatinya apa yang kita pikirkan sekarang, tidaklah hanya untuk saat ini saja. Kita selalu punya harapan ke depan, cita-cita, dan angan-angan tentang masa mendatang. Ya, seperti apa peradaban di masa depan itu dibangun oleh gagasan yang ada dan dituliskan hari ini. Menulis adalah salah satu jalan agar gagasan-gagasan kita bisa hidup seribu tahun lagi, bahkan abadi. Mari kita tunaikan risalah merawat dan membangun peradaban ini! 

***