Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Haru Pak Nuryadi, Dari Cleaning Service Sampai Jadi Dekan Berprestasi


GHIRAHBELAJAR.COM - Kisah Haru Pak Nuryadi, Dari Cleaning Service Sampai Jadi Dekan Berprestasi 
 


Kisah inspiratif memang bisa datang dari mana saja. Perjalanan hidup seseorang, sampai jatuh dan bangunnya menuai hasil selalu menarik perhatian. Salah satunya sosok Pak Nuryadi. Siapa sangka, lelaki berperawakan kurus ini merupakan seorang dekan di sebuah kampus besar di Jakarta.

Nama lengkapnya adalah Nuryadi Wijiharjono. Ia adalah sosok yang telah mengabdikan jiwa dan pemikirannya dalam mencerdaskan bangsa bersama Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka) selama lebih dari 30 tahun. Kisah haru ini mencuat dalam penyerahan penghargaan dalam rangkaian acara Uhamka Awards, Sabtu (14/11), di kampus FEB Uhamka, Jakarta Timur. Di kesempatan itu, ia dianugerahi penghargaan berupa emas dan uang tunai sebagai bentuk ucapan terima kasih atas dedikasinya yang luar biasa untuk Uhamka. 

Alkisah, awal mula menjadi bagian Uhamka, Nuryadi bekerja sebagai cleaning service dan karyawan. Ia memulai hidup merantau dari Yogyakarta ke Jakarta menjadi tukang becak, buruh masak, hingga pada akhirnya ia diminta untuk membesarkan kampus IKIP Muhammadiyah (saat ini Uhamka) menjadi karyawan perpustakaan. Karena kegigihan dan keuletannya, Uhamka menyekolahkannya kembali hingga akhirnya ia diangkat dosen. Bahkan, dengan potensi yang luar biasa, ia mencapai puncak kariernya sebagai dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Uhamka.

“Betapa berlikunya jalan yang pernah di tempuh untuk bisa berada dalam posisi saat ini. awal karier saya di Uhamka dari profesi cleaning service, kemudian menjadi karyawan, dosen sampai saat ini,” ujarnya saat memberikan kesan dan pesan di kampus FEB Uhamka, Sabtu (14/11). 


Dia melanjutkan, rasa syukur sampai saat ini masih diberi kesempatan untuk hidup dan mengabdi bagi Uhamka dan persyarikatan Muhammadiyah. Nuryadi menyatakan rasa bangga melihat Uhamka yang sekarang telah berkembang pesat bila dibandingkan saat pertama kali ia menapakkan kakinya ke kampus yang saat ini telah memiliki lebih dari 30 ribu mahasiswa.

Dia juga menyampaikan harapan dan nasihat agar seluruh generasi muda yang menimba ilmu di Uhamka dalam berbagai disiplin keilmuan agar belajar dengan giat dan memiliki cita-cita untuk bisa meneruskan jenjang pendidikan lanjutannya di perguruan tinggi ternama yang ada di seluruh dunia. 

“Sebaik-baik seorang kader Muhammadiyah ialah kader yang berprestasi dalam banyak disiplin bidang keilmuan namun setelah ia berhasil ia tak lupa untuk pulang dan berkontribusi nyata bagi perkembangan Muhammadiyah,” katanya.

Dia pun terharu sampai menitikkan air mata, kemudian sujud syukur. “Terima kasih kepada Rektor Uhamka Prof. Gunawan Suryoputro para pimpinan lainnya yang telah menyelenggarakan acara ini. Sungguh ini suatu keistimewaan dan tidak bisa dilupakan,” ujarnya.

“Saya pernah jadi tukang becak, tukang sapu, buruh, 30 tahun sudah saya di Uhamka, saya tidak tahu ke depan saya akan ada lagi, saya berdoa semoga akan banyak lahir kader-kader hebat dari Uhamka, hebat dalam memikirkan kemajuan bangsa pemberi solusi dan membawa kemaslahatan bagi banyak orang,” kata Nuryadi.


Begitulah kisah haru yang mungkin akan lebih dramatis bila diangkat ke dalam film atau cerita fiksi lainnya. Pelajaran hidup yang kaya, keuletan, dan kegigihan Pak Nuryadi patut kita teladani. Semua orang itu guru, alam raya ini adalah sekolah bagi kita semua.

***

Miliki Buku Terbaru Ahmad Soleh
Memutus Wabah Pilu Menyemai Benih Rindu (Diva Press, 2020)