Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Resensi: Pandemi Bikin Cacat



GHIRAHBELAJAR.COM, Oleh : Nadila Yohana

Judul : Menggebuk Pagebluk
ISBN : 978-623-92805-6-7
Penulis : Ahmad Sururi, dkk.
Penerbit : Pustaka Sedayu
Tahun Terbit : 2020
Cetakan : Cetakan Pertama
Tebal Buku : 120 halaman

Menggebuk Pagebluk adalah sebuah buku kumpulan cerita dan opini dari berbagai sudut pandang penulis. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Sedayu. Buku ini mengangkat empat tema, diantara nya adalah Sekolah Tanpa Kelas, Ruang 𝘊𝘺𝘣𝘦𝘳 dan Isu Sospolbud, Intermezzo Dulu, dan Ikhtiar Menggebuk Pagebluk. Buku ini memuat 21 cerita yang kaya akan sudut pandang.
Tema yang pertama Sekolah Tanpa Kelas banyak membahas tentang peralihan cara belajar. Semenjak adanya pandemi ini kita harus melakukan apapun secara daring, tidak ada 𝘦𝘺𝘦𝘴 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘢𝘤𝘵 mulai dari sekolah, sampai bekerja harus dilakukan di rumah. Para pengajar dituntut bekerja lebih keras lagi dalam penyampaian materi. Orang tua pun dituntut aktif, pintar dan 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘬 teknologi. Sudah seharusnya kita semua patuh dengan peraturan Pemerintah, mulai dari 𝘴𝘵𝘢𝘺 𝘢𝘵 𝘩𝘰𝘮𝘦 dan selalu mematuhi protokol kesehatan jika berada di luar rumah. Jika tidak, akan sampai kapankah keadaan kita dapat membaik? Karena pendidikan adalah harapan terakhir masa depan bangsa ini dan tanpa pendidikan tidak mungkin bisa bertahan.
Tema yang kedua adalah Ruang 𝘊𝘺𝘣𝘦𝘳 dan Isu Sospolbud. Di era teknologi seperti ini, semua hal terasa menjadi lebih mudah, tidak terkecuali hal-hal negatif seperti penindasan melalui digital. 𝘊𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 menyebabkan kesepian, tidak percaya diri, kekecewaan, dan merasa tidak ada harga dirinya lagi. Pasca mengalami 𝘤𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 memanglah sulit, sudah seharusnya kita sebagai keluarga, maupun teman korban membantu menghadapi situasi sulitnya, seperti menjadi pendengar yang baik. Pencegahan 𝘤𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 tidak lepas dari peranan orang tua, sudah seharusnya orang tua memberikan pemahaman dan pengawasan terhadap anaknya.
𝘉𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 ataupun 𝘤𝘺𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺𝘪𝘯𝘨 masih banyak terjadi, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Sebagai senior harus bersikap baik, tegas, mendidik bukan menghardik. Senioritas dalam dunia pendidikan harus dihapuskan. Sudah seharusnya kita semua membuat perubahan. Menjadikan pendidikan di Indonesia merdeka belajar.
Tema kedua selanjutnya membahas Isu Sospolbud. Sudah seharusnya kita sebagai pelajar terlibat aktif ataupun tahu tentang demokrasi dan politik, agar kita bisa mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Pendidikan demokrasi sangatlah penting, sudah seharusnya setiap orang memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai demokrasi. Jika pendidikan demokrasi berjalan dengan baik, maka kualitas SDM akan meningkat.
Pilkada yang seharusnya dilaksanakan pada tanggal 23 September 2020 harus mengalami perubahan karena adanya Covid-19 ini menjadi tanggal 9 Desember 2020. New Pilkada ini sudah seharusnya mengutamakan keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Tema ketiga membahas Intermezzo Dulu. Banyaknya penduduk Jakarta tidak terlepas dari segudang aktivitas yang membutuhkan transportasi. Salah satunya yaitu roda tiga tanpa mesin yaitu becak (𝘣𝘦 𝘤𝘩𝘪𝘢) yang sempat menjadi alat transportasi pada tahun 1960-an. Namun, becak bukanlah berasal dari Indonesia melainkan dari Jepang. Bahkan, becak pada saat itu dipakai untuk mengangkut jenazah karena ambulans masih langka. Beberapa tahun setelahnya jumlah nya bertambah banyak, gubernur Jakarta pada saat itu mengeluarkan keputusan untuk melarang kendaraan kayuh dan menggantikan dengan minica (bajaj, helicak, 𝘮𝘪𝘯𝘪𝘤𝘢𝘳) untuk menggantikan becak.
Intermezzo Dulu yang selanjutnya adalah tentang 4 mazhab dalam menghadapi wabah. Pertama adalah mazhab kesehatan, dalam menghadapi wabah ini mazhab kesehatan selalu mengikuti instruksi tenaga medis, mulai dari menjaga kebersihan, memakai masker, jaga jarak, dan lainnya. Mazhab yang kedua adalah mazhab ekonomi, dalam menghadapi wabah ini mazhab ekonomi tetap menjalankan tekad untuk mencari nafkah, meski harus bertaruh nyawa. Mazhab ketiga adalah mazhab konspirasi, dalam menghadapi wabah ini mazhab konspirasi mempunyai keyakinan bahwa wabah ini dibuat oleh elite global untuk kepentingan bisnis. Mazhab yang terakhir adalah mazhab agama, dalam menghadapi wabah ini mazhab agama mempunyai keyakinan bahwa ikhtiar adalah hal yang sia-sia, cukup berdoa saja kepada Allah, dan ritual-ritual lainnya.
Tema keempat membahas Ikhtiar Menggebuk Pagebluk. Pandemi ini mengingatkan kita semua agar selalu menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), mulai dari cuci tangan, jaga jarak dan langsung mandi sesudah dari luar sampai menjaga kebersihan sekitar. Pandemi ini juga yang membuat kita mempunyai kebiasaan baru, gaya hidup baru sampai mengingat kematian, sudah seharusnya kita senantiasa beribadah kepada-Nya. Kita juga harus berikhtiar, bekerja sama dan gotong royong sesama warga Indonesia untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ini.
Buku Menggebuk Pagebluk ini ditulis oleh banyak penulis. Tentu menjadikan buku ini kaya akan sudut pandang, maka dari itu membuat buku ini mempunyai perbedaan gaya penulisan dari satu cerita ke cerita yang lain karena penulis punya karakteristiknya masing-masing. Oleh karena itu membuat pembaca harus beradaptasi kembali dalam setiap judul.
Disarankan membaca buku ini untuk mengisi waktu luang ditemani dengan kopi atau teh favorit agar tetap produktif walaupun di rumah saja, lalu buku ini juga tepat untuk berbagai kalangan terutama generasi muda agar mempunyai pikiran yang lebih terbuka mulai dari teknologi, pendidikan, demokrasi sampai politik. Buku ini 𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦 dalam kehidupan sekarang sehingga saat membaca akan mengucap “oh”, “iya benar”, “betul juga 𝘴𝘪𝘩”. Banyak hikmah yang dapat dipetik mulai dari pendidikan yang mulai harus diubah sampai sabar, bekerja sama, gotong royong dalam menghadapi pandemi ini.

Disclaimer: Artikel ini dipublikasi ulang dari tautan: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=2688150864767204&id=100007169505276&scmts=scwspsdd
Artikel ini merupakan kiriman dari peserta Give Away Menggebuk Pagebluk